Surat Kecil Untuk Tuhan #Natrium

Langit mulai menjingga. Tetes air hujan mulai membasahi bumi. Aku mengamati titik-titik embun dipucuk daun cemara dari kamar minyak tanahku. Manusia meletakannku di kamar ini agar aku takkan bertatapan langsung dengan si air itu. Entah sejak kapan aku dan air menjadi musuh, yang jelas setiap bertemu dengan air emosiku akan meledak. Hal ini sebenarnya disebabkan karena reaksi antara kami akan menghasilkan gas hydrogen yang biasanya akan langsung terbakar. Air memang menjadi musuh dari keluarga besarku, keluarga Alkali. Reaksi antara logam alkali dan air bersifat eksotermik dan sangat dramatis. Inilah sebabnya sekarang aku terkurung dalam kamar minyak tanah yang ahh.. kalian takkan tahu betapa menyebalkan di sini.

Flashback on

Natrium, itulah namaku. Sir Humphrey Davy berhasil mengisolasiku dengan cara elektrolisis soda kaustik tahun 1807. Aku tinggal di gang 3 blok IA kampung Sistem Periodik Unsur. Aku terlahir sebagai keluarga Alkali. Ini karena kecenderungan anggota keluargaku untuk menjadi basa kuat. Aku ini sangat reaktif loh.. karenanya aku punya begitu banyak teman. Saat di alam kalian takkan menemukanku sedang sendirian. Pasti kalian akan melihatku sedang bersama teman-temanku. Baik itu bersama klorin (NaCl), bersama Hidrogen, Karbon, Oksigen (NaHCO3 / Na2CO3 / NaOH), bersama si Nitrogen (NaNO3), bahkan dengan keluarga besar halogen.

Kami selalu bermain bersama. Bersama mereka, aku bisa menjadi mencapai konfigurasi elektron yang stabil, berguna bagi para manusia, dan mereka yang selalu membuatku tetap santai saat tak sengaja berpapasan dengan air. Mereka adalah teman-teman terbaik. Tak tahu apa jadinya aku tanpa mereka. Saat bersama dengan mereka aku bisa membantu manusia di industri-industri kertas, kaca, sabun, tekstil, minyak, kimia dan logam. Hari-hari pun berlalu begitu menyenangkan.

“Tak ada yang abadi di dunia ini”

“ roda akan selalu berputar”

“hidup itu bukan untuk senang-senang aja..”

Kalimat-kalimat manusia itu menggema dipikiranku beberapa hari ini. Satu per satu teman-temanku tak lagi pernah mengunjungiku atau sekedar menyapa untuk mengajakku bermain bersama. Mereka sibuk masing-masing. Sering ku lihat oksigen sedang berjalan-jalan sendiri membantu pernapasan manusia. Ahh dia sibuk sekali. Sementara klorin sibuk jalan-jalan dengan teman barunya, Hidrogen (HCl). Menyebalkan sekali dia melupakanku begitu saja setelah punya teman baru. Klorin tak tahu saja, kalau temannya itu sering pergi dengan hydrogen (H2O) menjadi sesuatu yang sangat dicari oleh manusia.

Meski Klorin mengabaikanku gara-gara ia sudah bersama hydrogen, tapi tetap saja Klorin itu sahabat terbaikku kan ? Sahabat mana yang tak akan marah melihat sahabatnya dikhianati oleh unsur yang ia sayang. Bagaimana mungkin aku membiarkan Klorin sakit hati gara-gara hydrogen. Hari itu juga aku datangi hydrogen yang sedang bersama oksigen. Tanpa salam, tanpa penjelasan langsung saja ku marahi mereka. Karena tak bisa menahan emosi akhirnya terjadi ledakan yang cukup besar. Saat ledakan itu terjadi, aku begitu menyesal. Bagaimana mungkin aku melukai para manusia.

Klorin marah besar padaku. Ia bilang aku melukai teman baiknya. Bagaimana mungkin Klorin hanya memikirkan hydrogen. Aku juga terluka. Apa ia tak peduli lagi padaku ? Klorin berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi. Setelah itu oksigen datang sendiri, ia bilang ia juga kecewa padaku. Dia bilang bagaimana aku bisa berpikir sedangkal itu tentang hydrogen dan oksigen. Ia bilang bagaimana aku bias lupa hari-hari saat kami bertiga bersama menbantu manusia di pabrik sabun. Ahh yaa aku lupa. Aku lupa kalau oksigen dan hydrogen memang sudah begitu dekat dari dulu. Mereka berdua, senyawa yang begitu penting. Aku melupakan hal itu karena kemarahanku pada mereka yang seolah mengabaikanku akhir-akhir ini.

Tapi kata maaf sepertinya tak bisa memperbaiki semuanya sekarang. Klorin, Hidrogen, Oksigen, bahkan teman-temanku yang lain melewatiku begitu saja ketika kami tak sengaja bertemu. Mereka benar-benar mengabaikanku. Tak membalas sapaku. Tak menoleh ke arahku. Bahkan berpura-pura tak melihatku. Dan akhirnya hari ini manusia meletakanku dalam ninyak tanah. Katanya agar aku tak lagi membahayakan mereka.

Flashback off

Hari ini aku sedang  bersama Barium, Stronsium, Kalsium, Tembaga, dan kakak serta adik-adikku golongan alkali (Litium, Kalium) sedang berkumpul di lapangan. Kami akan menjadi agen pemberi warna dalam kembang api. Memperindah pesta kembang api. Kami bias menghasilkan warna yang berbeda-beda. Aku dengan warna kuningku, Stronsium dan Litium dengan warna merahnya, tembaga si biru, Barium si hijau, Kalsium dengan warna oranyenya. Kami bias menghasilkan warna karena saat atom kami terdapat dinyala api, electron-elektron akan menyerap energy akan berpindah ke tingkat energy yang lebih tinggi. Tapi dalam keadaan ini electron-elektron ini cenderung kembali ke tingkat energy semula. Saat inilah electron akan melepas energy dalam bentuk cahaya.

Dari langit ku lihat teman-temanku di bawah sana. Mereka yang dulu selalu tersenyum ketika ku datang, mereka yang selalu merangkulku saat aku butuh pundak. Mereka yang sekarang telah begitu jauh karena kebodohanku sendiri. Di langit, tempat yang tinggi, ku kirimkan surat untuk Tuhan. Semoga Tuhan kan membacanya…

Tuhan.. Jika aku diberi kesempatan terlahir kembali ke dunia ini di kehidupan yang akan datang, aku tak ingin apa-apa. Aku tak ingin terlahir jadi unsur lain. Aku pernah begitu ingin bisa menjadi Karbon yang bisa menjadi intan yang begitu indah, aku pernah begitu iri pada oksigen yang katanya tanpa oksigen hidup manusia akan berakhir dalam sepersekian detik, aku mungkin juga pernah ingin jadi gas mulia, yang selalu stabil, bahkan semua unsur selalu berusaha mencapai konfigurasi electron seperti mereka.  Sekarang aku tak menginginkannya lagi Tuhan. Aku hanya ingin menjadi diriku kembali. Agar aku bisa memperbaiki semua kesalahanku kini. Tapi Tuhan jika aku boleh meminta satu permintaan, aku hanya ingin Engkau kirim aku satu sosok sahabat. Satu saja cukup Ya Tuhan. Ia yang akan tetap bersedia berada disampingku. Ia yang akan selalu mengingatkan saat aku mulai berjalan terlalu jauh. Ia yang akan  menyediakan senyumnya untuk menghiburku. Tuhan, aku merindukan sahabatku.

One thought on “Surat Kecil Untuk Tuhan #Natrium

  1. […] Entah kenapa suka banget sama unsur ini, akibatnya sering dijadiin objek nyastrain kimia, kaya postingan sebelumnya di cerpen kimia Surat Kecil Untuk Tuhan […]

Tinggalkan Balasan