Izinkan Aku Pak Guru

Sebuah cerita dari pengajar muda yang ditempatkan di Majene, Sulawesi Barat. Sumber artikel : https://indonesiamengajar.org/cerita-pm/agus-arifin/izinkan-aku-pak-guru

 

Izinkan Aku Pak Guru…

oleh Agus Arifin, PM angkatan III

Pagi ini, kulangkahkan kaki menyelusuri jalan perkampungan yang sedikit berlumpur karena semalam hujan turun cukup lebat. Sepatu cokelatku, kali ini warnanya jauh lebih tak beraturan karena dipenuhi oleh lumpur yang menempel di sana. Tak apalah, karena sepatu inilah yang akan menjadi saksi kehidupanku di sini.

Ya ‘Kehidupan’, sebuah kata yang aku lebih lebih suka menggunakannya. Bukan perjuangan ataupun pengabdian. Karena dua kata itu terlalu tinggi untukku. Aku merasa tak cukup pantas untuk menggunakannya dalam tulisan ini. Kehidupan, karena di sini aku hidup dan disini sebenarnya akulah yang lebih  banyak belajar tentang arti kesabaran,keikhlasan, mencintai, kerja keras, berbagi dan memahami.

Ya, sifat yang sudah mulai luntur dari sanubari kebanyakan penghuni negeri ini, terutama para pemimpinnya. Sehingga tak heran, jika banyak diantara mereka lebih memikirkan ‘perut’ mereka sendiri dibandingkan memikirkan nasib rakyat yang menitipkan sebagian asa nya di pundak-pundak mereka. Mereka telah lupa. Ya mereka lupa akan janji mereka. Kasur empuk, makanan enak, baju bagus, uang banyak, mobil dan rumah mewah telah membuat mereka mendadak terserang ‘amnesia’. Padahal masih banyak rakyat di negeri ini, yang jangankan untuk membeli baju baru, untuk makan esok hari saja mereka masih bingung harus mencari kemana. Ah, sungguh kasihan  negeri ini…

“Ya sudahlah Rif…!, Sekedar mengecam atau kecewa tiadalah berguna, yang terpenting sekarang adalah aksi nyata, sekecil apapun harus kau lakukan untuk  kebaikan negeri ini,” fikirku, sembari terus mengayunkan langkahku memilih tanah yang bagus (tak begitu berlumpur) untuk dilewati.

Sekolah masih tampak sepi. Hanya ada beberapa murid  saja di sana, tak lebih dari 5 anak yang terlihat sedang bermain ‘Gobak Sodor’di halaman sekolah. Kubuka pintu kantor dan mulai menyiapkan buku-buku untuk mengajar di kelas. Mulai buku absen, buku nilai, sampai buku paket untuk pembelajaran. Tak ketinggalan juga, bahan-bahan untuk praktek mata pelajaran IPA siang nanti. Di tengah kesibukanku, tiba-tiba seorang anak datang menemuiku.

Assalamu’alaiku pak guru…”

“Wa’alaikum Salam waromatulloh…”Aku sangat mengenal suara itu. Ya,suara Sugiono, muridku.

“Iya Ugi (nama panggilan Sugiono), ada apa?” tanyaku penasaran.

“Hehe…ini pak mau kasih surat. Arif tidak masuk pak dia nitip surat ini untuk bapak”jawabnya agak malu-malu.

“Lho…Si Arif kemana Gi, koq gak masuk sekolah?” tanyaku.

“Dia dipaksa ibunya cari kemiri pak. Tadi subuh dia berangkatnya. Masuk Hutan Pak…”jawabnya.

“Baiklah, terimakasih Ugi…silahkan…boleh lanjut bermainnya,,,” sembari menyembulkan senyum dan memegang kepalanya.

“iya pak..sama-sama.”seraya berlari ke arah teman-temannya yang sedang bermain di halaman.

Jujur, aku sangat bahagia menerima surat dari muridku, Arif. Mungkin bagi guru-guru yang ada di kota, menerima surat izin tidak masuk sekolah dari seorang murid adalah hal yang biasa mereka temui setiap hari. Tapi tidak denganku di sini.

Anak-anak di sini tidak terbiasa menulis surat izin. Mereka tak masuk sekolah karena pergi ke kebun mencari kemiri, pergi ke hutan mencari kayu atau terbaring sakit di tempat tidur. Mereka cukup tak perlu datang ke sekolah, tak ada pemberitahuan berupa surat bahkan pesan sekalipun. Bahkan ada anak yang tidak sekolah tapi tidak sakit dan tidak pergi ke kebun, dengan santainya bermain-main di halaman sekolah.

Begitulah kondisi anak-anakku di sini. Sehingga aku yakin, mungkin surat dari Arif ini adalah surat izin pertama sepanjang sejarah sekolah ini (SDN 27 Tatibajo). Aku, bersyukur bahwa ternyata apa yang kukatakan di dengar oleh mereka. Sebuah pesan untuk mulai membiasakan berkirim surat jika tak bisa datang ke sekolah karena alasan apapun.

Dan hari ini, terjawab sudah, Arif, seorang anak dari keluarga Broken Home tapi jenius dan cerdas, ia telah memulainya.

Perlahan mulai kubuka sebuah kertas putih yang lebarnya tak sampai satu lembar buku. Hanya setengahnya. Ya, setengahnya. Bagiku itu tak penting. Yang penting adalah isinya. Tulisan itu mulai terlihat dan mata ini pun mulai menyisir kata demi kata yang tertulis dalam surat itu.

Assalamu’alaikum wr.wb.

Pak saya tidak sempat hadir di sekolah untuk mengikuti pelajaran hari ini, karena saya pergi ke kebun bersama ibu untuk mencari kemiri tanteku supaya saya punya uang untuk membeli buku, pensil, penggaris dan lain-lain. Sampai disini saja pak. Saya buru-buru pergi.

Surat  : ARIF

Untuk  : Pak Guru

Itulah isi surat Arif yang ditujukan kepadaku. Surat itu kutulis apa adanya, tak sedikitpun kutambah atau kukurangi kata-kata yang ada di dalamnya.

Tak dapat kutahan rasa haru saat membacanya. Imajinasiku tiba-tiba melayang dan membayangkan, betapa terburu-burunya saat subuh tadi ia menuliskan surat ini untukku. Sementara sang  ibu telah menunggunya untuk cepat-cepat  pergi ke kebun Karena jarak kebun yang harus dia tempuh cukup jauh masuk ke hutan..

Ah, kau selalu membuat kejutan untukku nak.  Kau selalu menemukan cara ampuh untuk membuat gurumu ini tersenyum  dan kembali bersemangat mengajar.

Terimakasih nak…terimakasih…..Atas pelajaran berharga pagi ini….Ya pelajaran tentang kerja keras dan keikhlasan menerima hidup dengan tetap berprasangka baik kepada Sang Penguasa Alam…Allah….

Cerita Agus Arifin – Pengajar Muda Majene, Sulawesi Barat

Hidup Di Pedalaman, Tak ada Sinyal Hp.

Sungai Sebagai kamar Mandi

Tetap Tersenyum Menikmati….:)

Tinggalkan Balasan