Indikator Asam Basa Dari Ekstrak Bunga Pukul Empat, Bunga Kana Dan Bunga Mawar

INDIKATOR ASAM BASA DARI EKSTRAK BUNGA PUKUL EMPAT, BUNGA KANA DAN BUNGA MAWAR

 

Isnaini Rahayu

Pendidikan Kimia S1, Universitas Negeri Semarang

isnainirahayu20@gmail.com

 

Abstrak

Pengguanaan indikator dalam titrasi asam basa memegang peranan penting karena digunakan sebagai penentu titik akhir titrasi. Pada saat mencapai titik akhir titrasi, indikator akan menyebabkan perubahan warna. Selama ini penggunaan indikator terbatas pada indikator yang terbuat dari bahan kimia.  Indikator sebenarnya dapat dibuat dari bahan alami, misalnya ekstrak bunga yang memiliki keakuratan yang tinggi. Indikator dari ekstrak bunga pukul empat dengan jangka pH 4.0-8.0 dengan perubahan warna dari hijau ke tidak berwarna. Untuk bunga kana jangka pH-nya 4.5-7.0, dan untuk bunga mawar dengan jangka pH 4.9-8.5 dengan perubahan warna dari kuning menjadi tidak berwarna.

Kata kunci : titrasi, indikator alami, ektrak bunga

 

Abstract

               The use of indicators in acid-base titration plays an important role because it is used as a determinant endpoint.  At the time it reaches the end point of the titration, the indicator will cause discoloration. So far, the use of indicators is limited to indicators that are made from chemicals. Indicators can actually be made from natural materials, such as flower extracts which have high accuracy. Indicators from four o'clock flower extract to pH 4.0-8.0 with the term color changes from green to colorless. For kana flowers term pH 4.5-7.0, and to roses with pH 4.9-8.5 term with a color change from yellow to colorless.

Keywords : titration , natural indicator , flower extracts

 

PENDAHULUAN

Titrasi merupakan metode analisis kimia secara kuantitatif yang biasa digunakan dalam laboratorium untuk menentukan konsentrasi dari reaktan. Dalam metode titrasi penting untuk menentukan titik ekuivalen reaksi dan titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi biasanya ditandai dengan perubahan warna pada titran. Perubahan warna ini diakibatkan oleh indikator yang sebelumnya telah ditambahankan pada titran sebelum titrasi berlangsung.

Selama ini beredar banyak jenis indikator asam basa. Indikator ini memiliki jangka pH tertentu yang dapat berubah warna pada pH yang berbeda. Indikator ini memiliki keakuratan yang tinggi untuk digunakan sebagai penanda titik akhir titrasi. Indikator-indikator yang selama ini digunakan terbuat dari bahan kimia. Walaupun indikator ini dapat dengan akurat menentukan titik akhir titrasi, harga indikator yang terbuat dari bahan kimia termasuk dalam kategori mahal. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan untuk bisa membuat indikator asam basa yang memiliki kearutan yang tinggi tetapi dengan harga yang murah.

Salah satu cara untuk membuat indikator asam-basa yang murah adalah membuat indikator dari bahan-bahan alami yang mudah didapat, salah satunya adalah menggunakan ekstrak bunga berwarna. Indonesia terkenal dengan keanekaragamannya baik flora maupun faunanya. Keanekaragaman flora ini memberikan keuntungan di antara bunga-bunga berwarna tersebut dapat dijadikan sebagai indikator asam basa.

Masalah yang dipecahkan pada artikel ini yaitu bisakah ekstrak bunga dijadikan sebagai indikator asam basa dan bagaimana cara untuk membuat ekstrak bunga menjadi indikator asam basa. Dengan tujuan penulisan artikel ini yaitu untuk mengetahui jenis-jenis bunga yang dapat dijadikan indikator asam basa dan untuk mengetahui cara pembuatan indikator alami dari ekstrak bunga.

 

PEMBAHASAN

Indikator Asam-Basa

            Indikator asam-basa adalah senyawa halokromik yang ditambahkan dalam jumlah kecil ke dalam sampel, umumnya berupa larutan yang akan memberikan warna sesuai dengan kondisi pH larutan tersebut. Besar nilai pH antara 1-14. Nilai pH untuk larutan netral adalah 7. Untuk nilai pH di bawah 7 larutan disebut bersifat asam, sedangkan untuk pH lebih besar dari 7 untuk larutan basa. Dalam pengertian yang sederhana, asam diartikan sebagai suatu zat yang akan membentuk ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif ketika zat tersebut dilarutkan dalam air. Ion hidrogen ini di dalam molekul air akan berikatan dengan molekul air membentuk ion hidronium (H3O+). Sedangkan basa diartikan sebagai suatu zat yang ketika dilarutkan dalam air akan membentuk ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif.

Indikator asam-basa ini sengaja ditambahkan pada larutan dengan tujuan untuk mengetahui kisaran pH dari larutan tersebut. Nilai pH ini dapat digunakan untuk untuk menentukan konsentrasi asam atau basa. Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan konsentrasi asam atau basa dilakukan dengan metode titrasi. Titrasi asam-basa didasarkan pada titik ekuivalen titrasi. Titik ekuivalen adalah titik pada saat jumlah mol ekuivalen zat asam sama dengan jumlah mol ekuivalen zat basa. Selain titik ekuivalen, dalam titrasi dikenal juga istilah titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi biasanya ditandai dengan perubahan warna pada analit yang disebabkan oleh penambahan indikator. Dalam titrasi asam-basa dikenal beberapa jenis indikator. Indikator ini umumnya berupa suatu asam atau basa organik lemah. Warna indikator berbeda dengan warna anion indikatornya. Beberapa indikator tercantum dalam tabel 1.

Tabel 1 Perubahan warna dan jangka pH dari beberapa indikator

Indikator

Nama kimia

Warna dalam larutan asam

Warna dalam larutan basa

Trayek pH

(Asam) biru kresil brilian

Amino-dietilamino-metil difenazonium klorida

Jingga-merah

Biru

0.0-1.0

(Asam) α-naftol benzein

 

Tak berwarna

Kuning

0.0-0.8

Ungu metil

Pentametil p-rosanilia hidroklorida

Kuning

Hijau-biru

0.0-1.8

(Asam) merah kresol

o-kresosulfon-ftalein

Merah

Kuning

1.2-2.8

(Asam) biru timol

Timol-sulfon-ftalein

Merah

Kuning

1.2-2.8

Ungu meta kresol

m-kresolsulfon-ftalein

Merah

Kuning

1.2-2.8

Biru bromofenol

Tetrabromofenol-sulfonftalein

Kuning

Biru

2.8-4.6

Jingga metil

Dimetilamino-azobenzena-natrium sulfonat

Merah

Kuning

3.1-4.4

Merah kongo

Asam difenil-bis-azo α-nafttilamina-4-sulfonat

Lembayung

Merah

3.0-5.0

Hijau bromokresol

Tetrabromo-m-kresol-sulfon-ftalein

Kuning

Biru

3.8-5.4

Merah metil

o-karboksibenzena-azo dimetilanilina

Merah

Kuning

4.2-6.3

Merah klorofenol

Diklorofenol-sulfon-ftalein

Kuning

Merah

4.8-6.4

(Litmus) azolitmin

 

Merah

Biru

5.0-8.0

Biru bromotimol

Dibromo-timol-sulfon-ftalein

Kuning

Biru

6.0-7.6

Ungu difenol

o-hidroksi-difenil-sulfon-ftalein

Kuning

Lembayung

7.0-8.6

(Basa) merah kresol

o-kresol-sulfon-ftalein

Kuning

Merah

7.2-8.8

α-Naftol-ftalein

α-naftol-ftalein

Kuning

Biru

7.3-8.7

(Basa) biru timol

Timol-sulfon-ftalein

Kuning

Biru

8.0-9.6

(Basa) α-Naftol-benzein

 

Kuning

Hijau-biru

8.2-10.0

Fenolftalein

 

Tak berwarna

Merah

8.3-10.0

Timolftalein

 

Tak berwarna

Biru

9.3-10.5

(Basa) biru kresil brilian

 

Biru

Kuning

10.8-12.0

Sumber: Svehla, 1990

Indikator yang sering digunakan dalam titrasi asam basa adalah indikator phenol ptalin (pp) dan indikator metil orange (mo). Indikator-indikator ini merupakan indikator kimiawi dan dijual di pasaran dengan harga yang relatif mahal. Masih banyak indikator kimiawi yang telah digunakan untuk titrasi asam basa yang disesuaikan dengan trayek pH dari indikator tersebut.

Indikator Asam-Basa dari Bahan Alami

Selain indikator komersil seperti yang telah dibahas di bagian sebelumnya, dikenal pula beberapa indikator yang dibuat dari bahan alami, contohnya saja dari ekstrak bunga. Dari percobaan yang sudah dilakukan Marwati (2010) beberapa ekstrak bunga yang dapat digunakan sebagai  indikator asam basa antara lain bunga pukul empat, bunga kana, dan bunga mawar. Menurut Fessenden dan Fessenden (1995), kebanyakan bunga merah dan biru disebabkan oleh glukosida yang disebut antosianin. Bagian glukosida itu disebut suatu antosianidin dan merupakan suatu tipe garam flavilium. Warna tertentu yang diberikan oleh antosianin, sebagian tergantung pH bunga. Warna biru corn flower dan warna merah bunga mawar disebabkan oleh antosianin yang sama yaitu sianin. Sianin dalam sekuntum mawar merah berada dalam bentuk fenol. Sianin dalam corn flower biru berada dalam bentuk anionnya dengan hilangnya sebuah proton dari salah satu gugus fenolnya. Oleh karena sianin serupa dengan indikator asam basa maka pigmen sianin dari tumbuhan mawar merah akan sama reaksi asam basa dari metil orange, p-nitrofenol, dan phenol ptalein.

Aplikasi indikator alami berupa bunga berwarna diawali dengan proses ekstraksi dari bunga-bunga tersebut. Proses ekstraksi yang dilakukan dengan berbagai metode. Bahan pengekstrak beberapa bunga berwarna ini dapat menggunakan air panas, n-heksana, metanol, campuran metanol-HCl, dan campuran etanol-air (Kotama 2008). Proses ekstraksi dapat dilakukan dengan cara maserasi atau perendaman. Hasil ektraksi bunga-bunga berwarna yang digunakan sebagai indikator alami biasanya mengandung antosianin dan flavanoid yang dapat berubah warna pada tiap perubahan pH tertentu. Hal inilah yang dapat dijadikan sebagai dasar penggunaan beberapa bunga berwana dapat digunakan sebagai indikator alami titrasi asam basa (Marwati 2010).

Cara membuat indikator asam basa alami adalah menumbuk bagian bunga yang berwarna pada mortar. Menambahkan sedikit akuades pada hasil tumbukan sehingga didapatkan ekstrak cair. Ekstrak diambil dengan pipet tetes dan diteteskan dalam keramik. Menguji dengan meneteskan larutan asam  dan basa pada ekstrak, sehingga ekstrak dapat berubah warna. Dalam penggunaan ekstrak bunga sebagai indikator asam basa ini perlu diperhatikan beberapa faktor, diantaranya trayek pH indikator, kecermatan, dan keakuratannya.

Menurut Kotama (2008) trayek pH bunga pukul empat adalah 1.40-3.40 dan pH 10.25-12.25. Untuk bunga kana adalah pH 4-9 ( Shisir 2008). Trayek pH untuk bunga mawar adalah pH 4.9-5.5dan pH 6.54-8.47 (Kokil 2006). Untuk jangka pH dan perubahan warna beberapa indikator alami disajikan pada tabel 2.

Tabel 2 Perubahan warna dan jangka pH dari beberapa indikator alami

Indikator

Warna dalam larutan asam

Warna dalam larutan basa

Trayek pH

Bunga pukul empat

Hijau

Tak berwarna

4.0-8.0

Bunga kana

Orange

Biru

4.5-7.0

Bunga mawar

Kuning kehijauan

Tak berwarna

4.9-8.5

Sumber : Marwati, 2010

Dari penelitian yang dilakukan oleh Marwati (2010) keakuratan ketiga indikator alami ini cukup bagus. Keakuratan indikator bunga pukul empat setara dengan indikator pp, sedangkan untuk indikator bunga kana dan bunga mawar setara dengan indikator mm. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa ekstrak bunga, diantaranya bunga pukul empat, bunga mawar, dan bunga kana dapat dijadikan sebagai indikator pada metode titrasi asam basa sebagai pengganti indikator yang terbuat dari bahan kimia.

Masing-masing bunga penghasil warna mempunyai sifat spesifik pada penggunaannya sebagai indikator alami. Sifat-sifat tersebut antara lain mempunyai trayek pH yang spesifik, dalam bentuk larutan tidak tahan lama, mudah rusak, dan berbau tidak sedap, serta mempunyai kecermatan dan keakuratan tertentu pada titrasi asam basa tertentu.

PENUTUP

Berdasar pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ekstrak bunga dapat dijadikan sebagai indikator asam basa yang mudah dibuat, bahan yang mudah didapat, dan murah. Beberapa ekstrak bunga memiliki jangka pH tertentu yang dapat berubah warna pada pH yang berbeda sehingga dapat digunakan sebagai indikator pada metode titrasi. Ekstrak bunga yang dapat digunakan diantaranya bunga pukul empat dengan jangka pH 4.0-8.0 dengan perubahan warna dari hijau ke tidak berwarna. Untuk bunga kana jangka pH-nya 4.5-7.0, dan untuk bunga mawar dengan jangka pH 4.9-8.5 dengan perubahan warna dari kuning menjadi tidak berwarna.

 

DAFTAR PUSTAKA

Fessenden, R. J., Fessenden, J. S.,1995. Kimia Organik Edisi ketiga JilidI (Terjemahan Hendyana Pujaatmaka). Jakarta: Erlangga

Kotama, Rastra Bayu .2008. Penggunaan Ekstrak Zat Warna Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa L) sebagai Indikator Alami dalam Titrasi Asam Basa, Skripsi, FMIPA UNAIR: Jember

Shisir, dkk. 2006. Use of Miriabilis Jalapa L Flower Extracts as a Natural Indicator in Acid Base Titration. Journal of Pharmacy Research, Vol 1 Issue 2.

Marwati, Siti. 2010.  Aplikasi Beberapa Ekstrak Bunga Berwarna sebagai Indikator Alami pada Titrasi Asam Basa. FMIPA UNY: Yogyakarta

 

Tinggalkan Balasan