Kimia + Sastra = ….

Postingan kali ini seng-iseng aja sih, berhubung aku sendiri suka banget sama sastra jadi coba-coba deh menggabungkan antara sastra dengan kimia. Jadinya kayak apa yaa?? Kalau rada aneh maklumin aja yaa namanya juga amatir laugh. Nah ini ada beberapa puisi dan corcul pakai bahasa kimia.

Pertama, ini kayaknya efek belajar #KAI deh, iya KAI.. Kimia Analisis Instrumen, trending topik banget deh mata kuliah ini di kelas tapi buat teman-teman (khususnya rombel 1 Pendidikan Kimia) semoga #KimiaAkanIndah pada waktunya ini akan benar-benar berakhir indah yaa..

Mungkin kita terlalu fokus pada residu yang didapat setelah filtrasi, dengan menambahkan sedikit reagent agar bisa mengidentifikasi. Namun, ketika residu itu hanya berupa kotoran tak berarti, dengan cepatnya kita berhenti. Padahal kita masih punya filtrat, yg mungkin saja disitulah akan kita temukan apa yg kita cari. Ya… Prosesnya mungkin akan lebih rumit lagi. Nebulasi, atomisasi, sebuah sumber energi agar bertransisi, memancarkan kembali energi sambil tereksitasi, mungkin saja emisi, dan masih saja diganggu ionisasi. Berusaha melewati celah sempit kromator, menabrak dinding detektor, tersaji data dalam grafik spektoskopi, dan pada akhirnya kita dapatkan apa yg kita cari.

Kalau yang ini pas galau gegara banyak tugas sad

Untuk mereka yang mampu bertahan pada tekanan, ia akan menjadi sekuat dan seindah intan, tapi bagi mereka yang memilih menyerah, ia 'hanya' akan jadi grafit (arang).
Tapi bukankah grafit mampu menuliskan hitam di atas putih?
bukankah bercaknya pada secarik kertas mampu mengingatkan pada kenangan yang telah lama? Lalu apa salahnya jika hanya jadi sekadar grafit?
Karena intinya, hidup itu pilihan. Memilih menjadi seindah intan atau sebiasa grafit tapi masih berguna, keduanya sah…

quote of the day

Karena kata bagaikan titanium, terlihat ringan namun memiliki makna yang kuat serta kilau yang terpancar kala ia terangkai

Hmm.. aku ini apa yaa?

Aku hidrogen, yang hanya punya sebuah elektron untuk mengelilingi inti
Aku yang sendiri, yang tak diterima di golongan halogen ataupun alkali
Valensiku mencukupi, tapi gas dan logam adalah sesuatu yang berbeda, lalu bagaimana aku bisa diterima di sini?
Tapi akulah hidrogen, si inti matahari
Ia yang harus merelakan dirinya sendiri manjadi helium karena tekanan tinggi
Ia yang terkonversi, mereka sebut itu sebagai fusi
Pengorbanan yang memberi kalian sinar matahari
Pengorbanan yang membuat hari kalian tak selalu sekelam malam hari

Tidak selamanya diam itu emas..

Ketika rasa jenuh berbenturan dengan rasa butuh

Seperti elektron yang berputar di orbitnya, kadang ingin melompat ke tingkat yang lebih tinggi, tapi malah jatuh lagi di tingkat dasar, tempat yang nyaman
hanya bisa terdiam
Katanya, diam itu emas, tapi nyatanya diam itu besi
Terlihat kokoh karena ada cat yang melindungi
dan akan tiba saatnya ketika cat mulai bosan melindungi
ketika cat akhirnya mulai merontokan diri
ketika itulah besi yang sebenarnya akan terlihat, mulai teroksidasi
rapuh dan terkorosi

hmmm.. 

Aku mencintaimu dg sederhana, seperti kata yg tak sempat disampaikan uranium pda timbal yg mengharuskannya meluruh jadi tiada…

dapat dari blog orang

Dari prjalanan panjang menyusuri sistem periodik unsur
timur ke barat, menepi kembali ke timur
blok demi blok ku telisik
pelan meniti langkah secara periodik
menahan detak hati, reaktif
bertameng daya diri, korosif
jika ada hawa untuk adam
pun lahirnya logam demi menggenapkan nonlogam
juga basa yg hadir menetralkan asam
untukku yg di blok timur pasti ada kau yg di blok barat
ya, kau adl alkali, umsur logam mengkilat
siluet warnamu menyentil elektron hatiku menggeliat
qodratku sbg halogen menghuni blok tujuh belas
sedang kau alkali menyinggahi utamanya blok utama
meski raga kita terisolasi blok berlipat belas
meski akan banyak wjah nonlogam menyapa
bisakah kau sebrangi semua tanpa cacat tempa
membawakan elektron valensi hanya untukku saja
lihatlah aku masih trjaga dlm rindu mjd halidamu
datanglah, jadikanku satu-satunya pembentuk garammu
bersatu dlm ikatan ion yg kuat, merekat
berpadu dlm struktur kristal yg kompak, tegak
abadi dlm rentang titik leleh yg tinggi, tak terdaki
(Fathimah A 2013)

Argon oh Argon…

Argon mengetuk tabung kaca dengan kesal. Ia mulai bosan, sangat-sangat bosan! Sudah bertahun-tahun ia ada di dalam tabung lampu ini. Setiap hari menerima rangsangan arus listrik yang mengakibatnya atom-atomnya berpendar. Akibat rangsangan atom yang berenergi, klebihan energi kemudian akan dilepaskannya berupa pancaran cahaya yang dapat menerangi ruangan. Awalnya ia sangat senang melakukan hal ini, menerangi setiap ruangan, membantu manusia tetap dapat bekerja meski hari sudah mulai gelap.
Tapi jujur, Ia iri pd teman-temannya yg bisa berjalan-jalan bebas di udara. Terlebih Oksigen. Ia iri sekali pd oksigen yg bisa berjalan-jalan di sekitar bola lampunya dgn riang. Seringkali Argon melihat oksigen membntu pernapasan manusia lalu keluar sambil bergandengan dgn Karbon. Kadang ia juga melihat Oksigen bersama hidrogen (H2O) menjadi sesuatu yg sangat dicari manusia. Ah.. Pasti menyenangkan sekali menjadi oksigen. Begitu di elu-elukan oleh manusia. Selalu dianggap yang paling penting bagi kehidupan manusia. Sedangkan dirinya sendiri? Ia terperangkap dlm bola lampu. Tanpa teman. Bahkan tak dianggap. Ya, manusia itu bahkan sering menyebut lampu tempat tinggalnya sbg lampu Neon, padahal yg memendarkan cahaya dirinya, Argon bukan Neon. 
Ia sangat ingin keluar. Ada di udara bebas. Tp Argon tahu jk ia berada di luar sana, ia dpt membahayakan manusia. Manusia akan sesak napas bahkan dapat mengakibatkan kematian. Ia tak mau jadi seperti itu.
Argon menatap sendu ke arah luar. Ia gas yang tdk berwarna, tdk berbau, kehadirannya tak terasa. Kahadiran bahkan tak dianggap. Bahkan orang-orang mungkin tak mengenalnya. Tapi ketika ia ada dlm bola lampu, ia dpt membawa manfaat bagi orang. Pendaran cahayanya akan menerangi setiap sudut ruangan. Ia sadar, tak perlu jadi yg pertama, tak perlu jadi yg trpenting, cukup mmbawa manfaat bagi orang lain. Kini ia menerangi ruangan dengan riang, tanpa pamrih. Tak perlu dikenal, tak perlu ucapan terimakasih. Tulus.

Entah kenapa suka banget sama unsur ini, akibatnya sering dijadiin objek nyastrain kimia, kaya postingan sebelumnya di cerpen kimia Surat Kecil Untuk Tuhan

Natrium tersenyum sendiri mengingat kembali kebersamaannya bersama Klor. Ketika ia dan Klor bergandengan di laut menikmati setiap deburan ombak, ketika mereka berjalan-jalan bersama di dapur. Natrium sangat menikmati setiap detik yang ia lewati bersama Klor. Ia sangat bahagia. Tapi nyatanya Klor tak selalu ada untuknya. Hari ini, Klor meninggalkannya. Natrium terpaksa menyembunyikan dirinya di dalam minyak. 
Ahh.. Ia sangat kesepian. Ia sangat merindukan Klor. Sedangkan Klor benar-benar memutuskan hubungannya dengan Natrium. Klor dengan asyik bergandengan dengan Barium, kadang dengan Kalium, Kalsium, dan juga Karbon. Bahkan Klor nekat menjalankan cinta terlarang dengan Karbon dan Flour sekaligus. Cinta terlarang yang telah merusak kebahagian keluarga Ozon. Natrium begitu kecewa. Ia berusaha untuk melupakan Klor tapi nyatanya bayang-bayang Klor tetap saja memenuhi pikirannya.
Hari itu pun tiba, entah apa sebabnya Klor datang lagi pada Natrium. Ia meminta Natrium bisa menemaninya lagi. Ia berjanji akan setia padanya kali ini. Natrium menatap Klor sendu. Rasanya ingin sekali Natrium berteriak di depan Klor. Menumpahkan semua emosi, memarahinya, memakinya. Tapi yang bisa dilakukan Natrium hanyalah mengangguk. Menerima kembali Klor. Menerima kembali cintanya. Sekarang mereka kembali bergandengan, berjalan-jalan di dapur manusia untuk melezatkan makanan. Mereka bahagia sekarang.. dan semoga selamanya.

Cukup ini dulu deh buat hari ini, kimia itu bukan momok kok gaaiisss.. buktinya kata-kata puitis dan mellow kaya di atas bisa dibuat dari bahasa kimia. Iya ngaa ?? iya kan ??? wink

#alaanakkimia

One thought on “Kimia + Sastra = ….

  1. like this post :)

Tinggalkan Balasan