Lima Problem Guru Cerdas dan Kreatif

Michael Jordan pernah mengatakan, “Pemain hebat tidak pernah memandang dirinya di kaca dan berfikir:  ‘Saya pemain hebat.’ Sebaliknya, dia akan bertanya kepada dirinya: ‘Benarkah saya pemain hebat?’.” Jordan sebagai sosok pahlawan bagi para penggemarnya, sosok pemimpin bagi seluruh rekan se-timnya di Chicago Bulls, dan sosok teladan di mata istri dan anak-anaknya.  Sangat beralasan, kenapa Jordan menjadi bintang yang sangat bersinar hingga mampu mencetak legenda dalam dunia olahraga Basketball.

Glamor dunia basket di Amerika Serikat maupun dunia merupakan saksi kehebatan seorang anak manusia yang berhasil menorehkan tinta emas sejarah yang tak tergantikan. Dua resep sukses hidup dari Michael Jordan: komitmen terhadap kualitas prestasi hidup dan komitmen untuk melakukan perbaikan secara kontinu. Bagaimana pula dengan sosok guru yang kerap disebut sebagai sang pahlawan tanpa tanda jasa? Apakah mereka juga sering mempertanyakan kualitas kapasitas diri mereka?

Bertanya, berefleksi, dan bersaksi memperbaiki kualitas personal dan kualitas profesionalismenya adalah syarat perlu hadirnya profil guru masa depan di dunia pendidikan kita. Tantangan dunia pendidikan pada masa yang akan datang akan semakin berat. Guru sebagai salah satu bagian penting dari pendidikan, harus mampu menjadi manusia pembelajar yang cerdas dan kreatif. Guru akan menjadi cerdas jika mereka mampu mengakses seluruh sumber ilmu pengetahuan dari buku, lingkungan sekitar, internet, media masa, dan puspa ragam sumber ilmu pengetahuan lainnya.

Kemudian, berpikir terbuka dalam merespons perubahan yang terjadi, beradaptasi dengan perkembangan pendidikan yang terjadi dan mampu mengoptimalkan sumber daya menjadi sebuah inovasi baru di dunia pendidikan adalah beberapa ciri penting guru kreatif. Namun sayangnya, tidak mudah bagi seorang guru agar dapat menjadi cerdas dan kreatif. Lingkungan juga tidak selalu mengizinkan guru untuk menjadi cerdas dan kreatif. Ada lima problem yang dihadapi guru, yaitu sebagai berikut.
1. Guru kerap harus mengerjakan tugas-tugas administratif yang memustahilkan ia membaca untuk menjadi lebih cerdas.
2. Guru kerap harus mengikuti banyak acara pemerintahan sehingga tidak sempat dan memiliki cukup waktu mendampingi murid untuk menolong proses pencerdasan mereka.
3. Guru sering tidak dapat mengembangkan kecerdasan karena pegangan dari ‘departemen’ sedemikian kaku sehingga waktu termakan habis untuk menghidangkan bahan kurikulum.
4. Guru kadang kala sulit mengembangkan kreativitasnya dalam konteks profesinya karena kehabisan waktu untuk mencari nafkah lewat jalur di luar keguruan.
5. Guru sulit menjadi kreatif karena kita telah melewati suatu masa yang cuku panjang, guru berasal dari lapisan kedua dari deretan murid yang cerdas dan pandai. 10—25 tahun yang lalu, generasi murid cerdas dan pandai enggan dan tidak mau menjadi guru. Sekarang kita malah tidak memiliki pendidikan yang secara khusus dan tepat guna mendidik guru dalam arti kebijakan. Implikasinya, guru menjadi jalur karier, bukan panggilan hidup. Padahal, guru tidak semata-mata suatu pekerjaan yang membutuhkan ijazah, tetapi juga hati. Pekerjaan guru membutuhkan relasi hati.

Pun demikian, setiap guru memiliki potensi besar untuk cerdas. Pasalnya, (1) setiap orang sebenarnya adalah kreatif, (2) kreativitas dibawa sejak lahir, (3) setiap orang dapat belajar menjadi kreatif, dan (4) kreativitas dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran. Kuncinya ada pada komitmen untuk menjaga kualitas prestasi hidup dan konsisten dalam memperbaiki diri agar lebih baik. Ada beberapa pilihan sikap yang dapat dikembangkan agar guru dapat menjadi lebih cerdas dan kreatif.

Pertama, memiliki rasa ingin tahu. Semangat bertanya untuk menambah khasanah pengetahuan yang dimilikinya pada saat ini merupakan jendela pembuka diri dalam menelaah sumber-sumber informasi yang ada di lingkungan sekitar. 
Kedua, berpikir positif dan optimis dalam menghadapi masalah. Challenge of change, memandang masalah sebagai tantangan untuk mengubah diri, bukan merupakan beban dalam hidup. 
Ketiga, mau dan mampu menghargai kritik dari orang lain sebagai jembatan loncatan hidup yang lebih prestatif.
Keempat, berani bereksplorasi kreatif, misalnya menggunakan metode pembelajaran yang variatif, menggunakan barang-barang bekas sebagai media pembelajaran tepat guna, dan eksplorasi kreatif lainnya yang mampu menginspirasi para siswa untuk menjadi insan kreatif juga.

Petuah bijak menyatakan, “Membutuhkan waktu 20 tahun untuk membangun reputasi baik, dan hanya membutuhkan waktu 10 detik untuk menghancurkannya”. Untuk itu, mari kita bangun reputasi baik sebagai guru cerdas dan kreatif, mengingat upaya ini sebuah konstribusi nyata menyiapkan generasi masa depan bangsa yang lebih baik. Ini pula satu agenda kita untuk memulihkan citra guru. Selamat berbakti dan berjuang…!

Artikel ini dikutip dari buku “Stop Menjadi Guru!” karya Asep Sapa'at. (Tangga Pustaka. 2013)

Tinggalkan Balasan