Flare vs Gas Air Mata

Huwaaa.. udah lama banget nggak nulis di sini laugh, adakah yang menantikan saya?? angel Ehh, maksudnya tulisan saya??

Jadi punya ide untuk nulis lagi di sini setelah semalam terjadi huru-hara #halahbahasanya… Ya, pokoknya semalam (24/6) diadakan pertandingan sepakbola antara Persija Jakarta melawan Sriwijaya FC Palembang dalam lanjutan turnamen TSC. Pertandingan semalam sempat ditunda di tengah pertandingan sebelum pada akhirnya benar-benar dihentikan pada menit ke-81 akibat kerusuhan yang terjadi di SUGBK. Ada banyak versi cerita nih, ada yang memberitakan kericuhan terjadi akibat Flare yang dinyalakan oleh oknum suporter Persija, sedangkan pihak lain mengklaim asal muasalnya bentrokan ini akibat ditembakannya gas air mata dari pihak kepolisian pada suporter Jakmania yang sedang bernyanyi dan beratraksi mendukung Persija. Disini, saya nggak mau ngomongin soal pihak mana yang salah atau pihak mana yang harus bertanggung jawab. Berhubung hanya jadi suporter layar kaca jadi rasanya nggak pantes aja nge-jugde sembarang tanpa tahu kebenarannya. Isna bijak banget kan yaawink

Nah, setelah ramai-ramai membahas flare dan gas air mata jadi penasarannya bagaimana sebenarnya flare dan gas air mata di mata kimia. Setelah cari-cari info, jadi pengin nih ditulis di blog, itung-itung isi blog yang udah banyak sarang laba-labanya ini. Flare. Kalian pasti tau dong yaa flare itu apa. Jadi menurut Wikipedia, Flare atau yang juga disebut suar adalah suatu bentuk pyrotechnic yang menghasilkan cahaya yang sangat terang atau panas tinggi tanpa menghasilkan ledakan. Selain cahaya dan panas, flare juga menghasilkan asap. Buat teman-teman yang suka nonton bola pasti sering lihat adanya kepulan asap dari tribun penonton kan? itu bukan orang lagi bakar-bakaran sampah loh guys, eh kalian udah tau ya?? Nah dalam dunia olahraga, terutama sepakbola, flare biasa digunakan sebagai media untuk mendukung tim kebanggaan atau hiburan di dalam stadion. Sebenarnya penggunaan flare di stadiun tidak dilarang, bahka oleh federasi sepakbola dunia, FIFA, tapi flare ini termasuk dalam kategori benda yang berbahaya dan dapat mengganggu pertandingan. Akibatnya, beberapa tahun terakhir penggunaan flare dalam stadion jadi dilarang. Selain flare dalam sepakbola juga biasanya ada yang namanya smoke bomb, ini hampir sama sih dengan flare, biasanya menghasilkan asap yang lebih tebal. Dari yang saya baca seperti itu, kalau salah mohon koreksi.

Komposisi dalam flare terdiri dari potasium nitrat, gula, pewarna makanan, dan baking soda. Sedangkan kandungan kimia dari smoke bomb diantaranya potassium nitrat/kalium nitrat (KNO3), gula pasir, fruktosa, alumunium foil, dan baking powder (untuk mendinginkan kalor). Untuk menghasilkan api dan asap, secara kimia melalui proses pembakaran. Pembakaran adalah suatu rentetan reaksi kimia antara suatu bahan dengan oksidan, disertai dengan produksi panas dan cahaya. Dibutuhkan oksigen (O2) dalam proses pembakaran, dan menghasilkan berbagai gas buang (yang kita lihat sebagai asap). Gas yang dihasilkan pun berbeda-beda, bisa karbondioksida (CO2) jika pembakarannya sempurna, dan karbonmonoksida (CO) jika pembakarannya tidak sempurna (Panditfootball.2016). Hal yang biasa dikeluhkan setelah menghirup asap dari flare dan smoke bomb ini antara lain sesak napas, mual, muntah, dan gangguan pernapasan lain. Ini bisa terjadi akibat tubuh kekurangan oksigen dan atau keracunan gas karbon monoksida atau karbon dioksida sebagai hasil pembakaran. 

Sekarang beralih ke gas air mata. Teman-teman pasti sering mendengar gas ini ketika media sedang memberitakan berita-berita kerusuhan. Ya, gas air mata memang menjadi primadona untuk mengatasi kerusuhan akhir-akhir ini. Gas air mata istilah bahasa Latinnya dikenal dengan nama lachrymator (yang berarti: “air mata”). Zat ini dapat menyebabkan mata perih, sehingga mengeluarkan air mata. Zat yang paling umum ada di lachrymator antara lain OC, CS, CR, CN, nonivamide, bromoacetone, phenacyl chloride, xylyl bromide dan syn-propanethial-S-oxide (dari bawang). Gas air mata dikemas sedemikian rupa hingga dapat dilepaskan melalui media yang sederhana seperti alat semprot biasa hingga melalui senjata berat. Ada pula yang dikemas menyerupai granat lempar. 

Gas air mata ini tidak berwarna dan tidak berbau sehingga sulit untuk dikenali bahwa ada gas air mata. Biasanya akan langsung muncul efek yang biasa dirasakan karena daya iritasinya yang luar biasa. Sesaat setelah dilepaskan ke udara yang paling pertama merasakan akibatnya adalah hidung dan mulut. Panas serasa membakar wajah, disertai pula dengan cucuran lendir, air liur, dan bersin-bersin. Gas air mata tidaklah berbahaya, tapi efek yang ditimbulkannya akan bertahan dalam waktu yang cukup lama, berupa gangguan terutama pada saluran pernapasan, pencernaan, dan sistem peredaran darah. Selain itu, efek susulan yang akan timbul berupa rasa mual, mulas, dan diare. Dalam jangka waktu panjang saluran pencernaan menjadi amat rentan dan lebih sensitif.

Nah itu sekilas tentang flare dan gas air mata. Intinya kedua benda ini punya manfaatnya masing-masing tetapi juga punya dampak yang buruk juga. Jadi sebaiknya pihak-pihak yang ingin memanfaatkan kedua benda ini punya pertimbangan yang bijak dalam menggunakannya. Last but not least, turut berduka untuk semua korban akibat kerusuhan semalam, dari pihak manapun. Bahan kimia bukan sarana untuk menyakiti apalagi membunuh sesama, kimia adalah ia yang akan menjadi dasar dalam mempelajari dunia lebih luas dan merangkul sesama untuk kemajuan di masa yang akan datang. 

Tinggalkan Balasan